• Teringat aku akan tulisan pujangga yang sangat kucintai,
    Ia pernah menulis puisi seperti ini ;

    Dalam keagamaanku aku mempertanyakan
    Bagaimana antara pecinta dan yang dicinta
    Sabar mencintai meski yang terjadi apapun jua
    Tetap menerima sekalipun ia berkali – kali tak setia

    Pecinta
    Tak pernah lelah mecinta

    Biar dikhianati berkali – kali
    Ia tetap mecinta dan mengasihi

    Hingga yang dicinta teringat lagi
    Kembali kepada pecinta setelah lama ia pergi

    Dan pecinta hadir
    Menerimanya dengan bunga hati
    Memeluknya dengan hangat lagi
    Menyuruhnya diam dengan titik
    Tak perlu menyesal dengan hati tercabik
    Sebab yang penting adalah kita dapat berbisik
    Kembali seperti dulu kala
    Sebagai pecinta yang dicinta

    Datangilah kepadaku, Ilahi
    Laki – laki yang tak pernah merasakan rasanya dicintai
    Laki – laki yang kerap mengkhianati hati
    Laki – laki yang kadang main hati
    Biar kubawakan ia puisi – puisi
    yang membuat ia jatuh hati
    sampai ia mengenal sang cinta sejati

    Buatlah aku jatuh cinta kepadanya
    Sebagaimana Engkau mecinta
    Sehingga ia bertanya – tanya
    Kenapa pula perempuan ini sangat mecintainya?

    Dan ia akan hadir kembali
    Meski yang dicinta pergi berkali – kali
    Ia akan mecintai lagi dan lagi
    Meski ada pula lukanya yang tak terobati

    Dialah pecinta
    yang mecintai sang cinta sejati
    mengajari para laki – laki
    bagaimana ia tulus mencintai

    Cinta sejati akan menang berkali – kali
    meski ia pernah dikhianati
    Cinta sejati tak akan malu kepada siapapun
    yang ia cintai
    Cinta sejati tumbuh di atas hati yang suci

    Cinta sejati tegak diatas kebenaran,
    membela dengan keadilan,
    mengalahkan segala kefasikan,
    menang di segala pertempuran

    Cinta sejati, mengalahkan segala kefasikan cinta