Orang yang ditimpa kekecewaan dalam cintanya, kerap ia merasa putus asa. Seakan-akan ia ditimpa penyakit dalam hatinya, itulah patah hati. Apa guna pula kalaulah orang yang dicintai itu tidak memberikan pengharapan. Putuslah pengharapan, setelah itu dapat pula putus perjuangan hidup. Kita pun merasa tak ada jalan kembali dalam cinta, tak dapat pula mengecap kebahagiaan.
Padahal, kalaulah kita contoh orang-orang budiman dalam mencintai, bukan seperti itulah jalan yang ia tempuh. Bagi orang-orang budiman, kekecewaan cinta kerap jadi jalan baru menempuh kehidupan. Seperti yang dikatakan Hamka, “Bertambah luas akal, bertambah luas pula hidup, bertambah datanglah bahagia. bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka”
Kalaulah akal hanyalah dipakai memikirkan nasib patah hati kita saja, celakalah itu! Padahal kebahagiaan itu tersimpan dimana saja, tidak hanya pada orang yang dicintai. Kalaulah ditilik luasnya hidup itu, pastilah kita bertemu jua pada bahagia.
Hamka pula pernah menceritakan akan kekecewaan cinta lewat kisah Zainuddin dan Hayati. Ketika Zainuddin dikecewakan cintanya oleh Hayati, sahabatnya, Muluk memberikannya nasihat seperti ini :
“Dengan terus terang saya katakan, bahwa Guru bercelaka, sengsara, hidup Guru sempit, lebih dari hidup orang lain, lantaran salah Guru sendiri.
Tenaga mudamu, darahmu yang masih panas, kepalamu yang masih sanggup bertempur dengan peri penghidupan telah dirampas dan dirusakbinasakan oleh perempuan itu. Jangan mau Guru! Guru mesti tegak kembali. Langkahkan kaki ke medan perjuangan, yang selalu meminta tentara, yang selalu kekurangan serdadu.
Karamkan diri ke dalam alam, ke dalam masyarakat yang mahaluas. Disana banyak bahagia dan ketenteraman tersimpan. Apa sebab hati akan dibiarkan bersedih dan bersusah di dalam alam ini? Padahal lapangan kemuliaan dan perasaan bahagia terbuka buat semua orang!
Salah sekali kalau orang sebagai Guru menyangka kebahagiaan ada pada rumah yang indah, atau pada uang ter“
Orang yang putus harapan pada orang yang dicintai, kerap ia mencari orang lain yang lebih tinggi derajatnya, ia perjuangkan orang lain, sehingga ia lupa dengan cinta yang lalu. Namun, bagi orang budiman, yang hatinya suci dan sejati cintanya, jalan itu tidak selalu menjadi alternatifnya. Tidaklah selalu kita perlu mencari orang yang lebih baik, padahal diri sendiri belumlah sempurna pula. Kalaulah cinta itu dikecewakan, perbaikilah hidup, perbaikilah diri, selidikilah kekurangan, selidikilah pula dosa kepada Tuhan. Barulah setelah memperbaiki hidup itu kita dapat mengecap penghidupan yang lebih baik serta memperoleh cinta yang lebih baik.
Kalaulah pula cinta itu sejati, maka tegakkan badan, teguhkan hati, serta langkahkan kaki dalam perjuangan hidup. Kita buktikan bahwa cinta kita sejati walaupun dikecewakan, dikhianati, ditinggalkan kita oleh orang lain. Janganlah lemah hati, tetaplah tegap di jalan kehidupan, serta sabar dalam mencintai dengan ikhlas atas ridha Allah. Tidak perlu kita mengemis, Jagalah harga diri Tuan dan Nyonya!
Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sali sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan.
Perjuangan hidup tidaklah boleh berhenti hanya karena putusnya harapan dalam cinta. Perjuangan masihlah panjang. Kalaulah dihabiskan hanya meratap saja, celakalah hidup. Namun, kerahkan diri kepada masyarakat yang luas. Kalaulah maksud kita terhalang pada satu jalan, janganlah kita halangkan dengan jalan yang lain. Bawalah diri kepada penghidupan yang lebih baik, dalam berkarya mengarang lagu, syair, puisi dan roman, dalam perkumpulan politik dan ekonomi, dalam rumah-rumah panti, dalam sekolah-sekolah, kerahkan kedalam sana, dan bergeraklah dalam kemanfaatan hidup. Kelak pastilah kita dapat mengecap ketenteraman dan kebahagian itu. Demikian sama yang ditulis Hamka :
“Salah sekali kalau orang sebagai Guru menyangka kebahagiaan ada pada rumah yang indah, atau pada uang berbilang, atau pada perempuan yang cantik. Kalau demikian, apakah akan ubahnya Guru seorang terdidik budiman dengan orang-orang zaman kini. Orang yang sampai gugur rambut di kepala mencari uang kian kemari, tetapi ia tidak hendak puas, hanyalah semata-mata lantaran diperintah oleh senyuman perempuan.
Lihat anak-anak zaman muda sekarang, yang menangis tersedu-sedu meminta belas kasihan perempuan, mau dia berkorban, sengsara, hina, hanyalah mencari apa yang disebut orang cinta. Salah persangkaan yang demikian, hai Guru Muda. Cinta bukan mengajar kita lemah tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.
Jika kita dikecewakan oleh perempuan pada hari ini, ada dua jalan ditempuh orang, satu jalan yang ditempuh oleh orang yang hina dan rendah budi. Satu jalan pula ditempuh oleh orang yang dalam pikirannya. Yang ditempuh parewa ialah membalaskan dendam dengan jalan menganiaya. Dicarikannya pekasih atau kebenci kian kemari, dituntutnya ilmu sihir kepada dukun-dukun yang pandai, sehingga perempuan itu cerai dengan suaminya, atau kena sijundai atau parendangan. Cinta yang demikian namanya kekejaman, dia menganiaya bukan mengasihi, memetingkan kesenangan seorang. Dan itu bukan budi dan cinta, tetapi nafsu yang serendah-rendahnya.
bukan begitu jalan yang ditempuh budiman. Jika hatinya dikecewakan, dia selalu mencari usaha menunjukkan di hadapan perempuan itu, bahwa dia tidak mati lantaran dibunuhnya. Dia masih hidup, dan masih sanggup tegak. Dia akan tunjukkan di hadapannya dan di hadapan suaminya bahwa jika maksudnya terhalang di sini, pada pasal lain dia tidak terhalang. Guru sendiri yang mengajarkan kepada saya, dan sekarang saya kembalikan kepada Guru, bahwa banyak orang besar-besar yang kalah dalam percintaan, lantaran kekalahan itu dia ambil jalan lain, dia maju dalam politik, dalam mengarang syair, dalam mengarang buku, dalam perjuangan hidup, sehingga dia naik ke atas puncak yang tinggi, yang perempuan itu wajib melihatnya dengan menengandah dari bawah. Dengan itu, biar hatinya sendiri hancur dalam kekecewaan yang pertama, maka orang banyaklah yang mengambil hasilnya”
Ditulis ulang,
April 2023.

Leave a Reply