a december wisdom for your journey

By

“Sometimes you have to travel a long way to find what is near” -Paulo Coelho

Dear my friend, It’s been a while since I wrote anything about you, well maybe too long. But here I am again, writing a few messages for you. Life is mysterious, isn’t it? I picked some books lately and somewhere between the lines and the little bits of wisdom, I found myself thingking of you–I’m not here to preach you or correct you, of course I’m not. I just want to share something that might feel like a sign meant just for you. Enjoy the read, my friend!


It’s been a long journey, my friend.

Sejak bulan Juli sampai ke Desember ini aku sudah berkeliling ke berbagai tempat, merasakan takdirku sendiri sebagai “The Nine of Pentacles”. Banyak kisah, pelajaran, dan kebijaksanaan yang terkumpul sepanjang perjalanan itu. Salah satunya adalah kebiasaanku membawa buku-buku Paulo Coelho ke mana pun aku pergi. Jujur saja, cerita Santiago dan Piramida itu benar-benar menginspirasiku untuk melakukan perjalanan ini. Tapi lebih dari itu, aku merasa semua ini memang sudah menjadi bagian dari ketetapan-Nya.

Sebelum memulai perjalanan dan memutuskan untuk berhenti bekerja di Jakarta, aku sempat bermimpi berada di dalam sebuah masjid. Di tempat itu, aku mendengar seseorang menyampaikan sebuah pesanโ€”seolah-olah petunjuk yang mengatakan bahwa aku akan kembali ke kota Malang, menjalani perjalanan panjang, dan menghadapi misteri-misteri lainnya yang sayangnya belum bisa sepenuhnya kuceritakan padamu.

Tentu saja, aku memimpikanmu sepanjang perjalanan. Have you been thingking about me and… the mystery of destiny? Ada saat-saat ketika aku merasa bahwa ketika Tuhan sudah berkehendak, seluruh alam semesta seolah tunduk dan bergerak bersama untuk mewujudkan ketetapan-Nya. Disanalah aku belajar memahami kata maktubโ€”bahwa semua yang terjadi telah tertulis.

Paulo pernah menulis suatu kutipan dalam bukunya The Alchemist, ‘kadang-kadang kita perlu melakukan perjalanan yang jauh untuk menemukan apa yang dekat’. Maksud perjalanan disini tidak selalu menceritakan mengenai perjalanan fisik, tapi seringkali bermakna perjalanan batin yang menuntun seseorang kembali kepada dirinya sendiri atau hal-hal sederhana yang mereka lewatkan atau baru mereka sadari sepanjang perjalanan.

Sepanjang kita melakukan perjalanan, pada dasarnya kita akan kembali kepada tempat awal kita.

Ingatlah ketika aku dulu selalu berdoa kepada Tuhan untukmu, mencintaimu tanpa mengharap balasan apapun, melihat tanda-tanda lewat mimpi bahwa engkaulah takdirku. Aku telah melakukan perjalanan yang panjang itu, perjalanan mencintaimu– yang tentu saja semua inilah bagian dari perjalanan dan takdirnya. Tapi perjalanan itu tidak pernah sia-sia, karena pada akhirnya bukan hasil materi yang menentukan nilai perjalanan, tetapi wawasan, hikmah dan pengalaman batin yang membentuk jati diri kita; pelajaran-pelajaran hidup itu sendirilah yang menjadi harta karunnya!

Sepanjang perjalanan meraih takdir sejati kita, tentu akan ada saat-saat ketika kita harus berhadapan dengan berbagai risiko. Ingatlah bagaimana kisahku tentang pengkhianatan, atau ketika aku harus menerima pahitnya penolakan cinta. Apa pun bentuk kekecewaan itu, semuanya tetap bagian dari takdir yang telah digariskan oleh-Nya. Mau tidak mau, kita harus terus melangkahโ€”karena dengan terus melanjutkan perjalanan itulah kita perlahan belajar memahami makna dari setiap kejadian yang tampaknya tidak kita inginkan.

Dan pada penghujung perjalanan, kita selalu dipulangkan kembali kepada diri kita sendiri atau apa-apa yang sejati bagi kita. Dan ketika kita menatap ke dalam, kita mengerti bahwa Tuhan telah membentuk kita pelan-pelan sepanjang jalan. Kita bukan lagi pribadi yang sama seperti saat kita memulai perjalanan.
Inilah perjalanan mengenal diri, dan mengenal Tuhan, yang seluruhnya dituntun oleh-Nya.

Kadang kita pergi jauh, menempuh perjalanan panjang hanya untuk memahami arti cinta sejati melalui patah hati dan berbagai kegagalan hidup. Namun pada akhirnya, kita menemukan bahwa cinta sejati itu begitu dekatโ€”ia tersembunyi dalam diri kita sendiri.

Dan sering kali, banyak orang mencari kekasih sejatinya ke mana-mana, mengalami banyak luka dan kecewa, padahal sosok yang mereka cari itu sebenarnya sudah berada begitu dekat. Sayangnya, dalam kesibukan mengejar apa yang ada di luar, mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka cari sudah lama hadir di sisi mereka.

So this is the wisdom, my friend. ‘You will only understand my worth when, having lost me, you find me again.’ There is no point in trying to shortten the journey.

So take whatever great journey awaits you, my friend. Be true to yourselfโ€”ikuti petunjuk yang lahir dari dalam, dan dengarkan hatimu. Apa pun bentuknya, ingatlah bahwa ini adalah perjalananmu. Bukan perjalananku, bukan perjalanan temanmu, dan bukan pula perjalanan orang tuamu. Selama kamu mengikuti apa yang benar-benar berarti bagimu, tidak ada yang perlu engkau sesali. Karena apa pun yang terjadi, hidupmu tidak bisa diukur, dibandingkan, atau dinilai berdasarkan hidup orang lain.

Setiap orang membawa takdirnya masing-masing, luka dan pelajarannya masing-masing, serta panggilan hati yang berbeda. Maka berjalanlah dengan keyakinan bahwa jalanmu memang unik, dan karenanya tak seorang pun berhak meremehkan, menghakimi, atau menentukan arah yang seharusnya kamu ambil.

Dan ingatlahโ€”perjalanan sejati bukan hanya tentang ke mana kakimu melangkah, tetapi ke mana jiwamu dituntun. Selama kau bertahan pada keaslian dirimu, Tuhan akan membukakan pintu-pintu yang tepat, mempertemukanmu dengan orang-orang yang seharusnya kau temui, dan menyingkirkan yang tidak lagi sejalan.

Pada akhirnya, kita semua adalah peziarah dalam hidup ini. Dan setiap langkah yang kau ambil dengan hati yang jujur akan selalu membawamu semakin dekat pada takdir sejatimu.

Note: Everyone’s free to read this, but it’s meant for a specific friend. You can take any wisdom that resonates with you.

Posted In ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *