Lembaga Cinta

By

Tuan dan Nyonya! Saya tuliskan tulisan ini atas rasa terimakasih saya terhadap guru yang telah banyak mengajarkan saya dalam tulisannya. Beliau adalah ulama yang saya sangat cintai, yang bukunya selalu terpajang di depan meja belajar saya, yang kata-katanya selalu dikutip di dalam tulisan saya, yaitu Nambo Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau sekarang lebih dikenal dengan Buya Hamka.

Nambo! kalaulah dapat menulis kembali karangan tulisan Nambo ini, saya hendak membuat sebuah tulisan yang berjudul “Lembaga Cinta”. tulisan yang melanjutkan buku seri “Mutiara Falsafah Buya Hamka” yang berjudul Lembaga Hidup (Hamka, 1983) dan Lembaga Budi (Hamka, 1983).

Walaupun saya tak pandai mengarang tulisan ini seperti yang Nambo tuliskan, saya hendak menuliskan pemikiran Nambo tentang kehidupan dan Islam dalam kaca pengalaman pribadi saya sendiri melalui kajian cinta. Karena banyak orang yang berkata Nambo adalah seorang ulama roman, bermazhab cinta! Maka itu, dengan sepenuh hati saya tuliskan tulisan ini untuk masyarakat agar kelak mereka mengambil hikmah dan pelajaran dari tulisan ini.

Nambo! Berkat tulisan Nambo itu, saya banyak mengecap luasnya ilmu tasawuf modern serta tingginya budi, adab dan kesopanan. Tanpa tulisan Nambo, tak pernah bertemu hati ini dengan hidayah. Apalagi Cinta Ilahi! Betapa luas terbukanya akal saya membaca tulisan Nambo! Dalam hati saya, saya berterimakasih sepenuhnya dengan tulisan Nambo itu, semoga kelak pemuda zaman sekarang pun membaca tulisan-tulisan Nambo itu.

Saya pun berterima kasih kepada tokoh-tokoh ulama Muhammadiyah yang telah memberikan saya jalan mengenal Islam, begitu pula kepada organisasi PP Muhammadiyah, serta pendirinya yaitu K.H Ahmad Dahlan.

Tuan dan Nyonya yang dihormati! Inilah sebuah kisah mengenai kebijaksanaan cinta, yang saya tuang melalui pemikiran Hamka dan diri saya sendiri. Tulisan yang banyak mengutip karya Hamka dan pengalaman pribadi. Sekiranya jika tulisan ini memberikan kebaikan kepada Tuan dan Nyonya, jangan segan Tuan dan Nyonya tolak. Saya hanya bisa membagikan karunia Tuhan, yaitu buah hikmah yang ditanam oleh akal dari hati lewat Sang Hakim. Begitu banyak yang Tuhan ajarkan kepada saya, tapi begitu kecil ilmu dan pemahaman yang saya tuliskan ini.

Saya persembahkan tulisan ini untuk Tuan dan Nyonya sekalian, dan juga kepada Tuan sekaligus sahabat saya yang saya cintai. Semoga dari apa yang saya tuliskan ini dapat menjadi hasanah bagi Tuan dan Nyonya tercinta, sehingga terbukalah hijab-hijab itu, bertemulah cahaya dengan hati, kita pun dapat mengecap bahagia dan mengenal cinta sejati. Doa yang terbaik untuk Tuan dan Nyonya, Semoga Tuan dan Nyonya tercinta diberikan selalu kebaikan oleh Tuhan, ditanamkan-Nya budi tinggi di hati Tuan dan Nyonya, sehingga Tuan dan Nyonya meraih kemenangan pada lautan dunia maupun kampung akherat kelak.

Jakarta, April 2023
sepenuh hati ditulis oleh,
sepertibintang.

Dengan nama Allah, Tuhan yang pengasih lagi penyanyang. Mahasuci Tuhanku, Tuhan seluruh alam. Sholawat dan salam bagi Muhammad, Rasul pilihan.

Lembaga dan Cinta

“Lembaga” artinya ialah tuangan, yang berbentuk menurut barang yang dicita-citakan sehingga tercipta setelah bahan yang dituangkan didalamnya. Lembaga dapat disebut pula seperti cetakan, yang terbentuk sesuai isinya masing-masing. Contohnya lembaga kehidupan manusia, ia dibuat di dalam rahim Ibu, dituangkan di dalam kehidupan sekarang dengan usaha memenuhi hak dan kewajiban, sehingga terpenuhilah suatu lembaga itu.

Sedangkan lembaga cinta, ia dibuat sesuai hukum Tuhan, dituangkan di dalam hati manusia. Sehingga terbentuklah lembaga cinta sesuai dengan bentuk dan pribadi manusia itu. Tuhanlah yang menuangkan cinta kedalam hati manusia, sehingga dari situ terbentuklah cetakan cinta sesuai dengan wadahnya. Kalaulah wadahnya (hati) kotor, terbentuklah cetakan itu dengan budi yang rendah, khianat, lemah hati, putus asa, dan perangai buruk lainnya. Kalaulah wadahnya cantik dan bersih, tentulah tercetak dari cinta tersebut perangai budi yang tinggi, tabah hati, ikhlas, dan budi baik lainnya.

Hamka mengibaratkan cinta bagai embun yang suci dan bersih, karena yang menurunkannya pun sang maha suci Allah. setelah itu, terbentuklah lembaga cinta di dalam hati manusia yang menentukan baik atau buruk lembaga tersebut.

“Demikianlah ilham yang dibawa oleh cinta yang suci. Cinta yang suci adalah laksana setetes embun yang turun dari langit ke atas bumi Allah ini. Jika sekiranya bumi yang menerimanya itu subur, maka tumbuhlah di atasnya beraneka warna bunga-bungaan yang harum semerbak. Menanamkan damai, aman, sentosa, insaf, rasa percaya kepada diri sendiri. Dalam hal yang begini, embun “cinta” yang setetes itu membawa manusia yang dititiknya ke mayapada yang mulia. Tetapi jika dia jatuh ke bumi yang tak subur, yang tandus dan penuh batu-batu, tidak ada yang tumbuh disana, lain dari sirih memanjat batu, kuning daunnya lemah gagangnya. Orang itu menjadi putus asa, pencemburu kepada manusia, hilang kepercayaan kepada nikmat yang tersimpan di dalam hidup. Atau menjadi seorang pembenci, kurang percaya, kadang-kadang pendendam dan sakit hati …”

Begitulah cinta yang suci, membawa harapan pada luasnya lautan hidup, mengubah kertas putih menjadi penuh titisan pena, dituliskannya sepenuh isi hatinya yang suci itu dengan sepenuh perasaannya, timbulah dari perkataannya itu seperti seni yang indah yang dapat menyucikan jiwa serta menggetarkan hati. Dari hati yang suci timbulah perkataan dan perbuatan yang baik seperti pemaaf, penyabar, penyantun, ikhlas serta ridha sehingga timbulah manfaat kepada dirinya sendiri dari hatinya itu. Banyak pula manfaat itu sehingga menyebarlah, tidak hanya kepada diri sendiri, namun timbul pula kepada diri orang yang dicintai serta masyarakat sekitarnya.

Cinta diibaratkan seperti kalimat tauhid (lailahailallah). Pohon yang akarnya kuat, dan cabangnya menjulang ke langit. Sebagaimana dalam bahasa arab, cinta disebut hubb yang artinya juga dapat diartikan sebagai benih. cinta diibaratkan benih yang tumbuh di atas tanah hati manusia, ia adalah sebuah iradat Allah, dikirim Tuhan agar tumbuh dengan baik di hatinya, kalaulah tanahnya tandus dan lekang, tumbuhnya akan menyiksa orang lain, kalaulah turun kepada hati yang keruh, maka tumbuhlah kerusakan, namun kalau ia hinggap pada hati yang suci, tumbuhlah cinta itu dengan kemuliaan, keikhlasan, dan taat pada Ilahi.

Marilah berbaik sangka dengan cinta yang ditumbuhkan di dalam hati kita sendiri. Semua yang sudah ditetapkan Allah di dalam hati kita, pastilah punya maksud baik, cinta merupakan nikmat yang tumbuh di dalam hati kita. Maka, kalaulah diberi nikmat cinta itu, patutlah kita syukuri, kita jaga dan kita pupuk, kita pelihara supaya tidak dicabut Tuhan kembali. Dengan ikhlas kita rawat, tidak menuntut balas kepada yang dicintai, karena balasan semuanya datang dari Allah. Maka, sudahlah jelas sejatinya tidak ada yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan, karena terkadang bukanlah manusia yang sejatinya membalas cinta, tapi cinta itulah dibalas oleh Tuhan Allah. Siapa yang dapat memegang hati manusia serta membolak balikannya? Allah! Maka, mintalah dan haraplah ridha Tuhan, bukan ridha manusia!

Agar cinta itu terus tumbuh dengan sucinya di hati kita, cinta itu tidaklah boleh menabrak norma-norma agama yang ditetapkan Tuhan. Cinta itu haruslah berdiri tegak dan berjalan di jalan yang diridhai Allah. Orang haruslah berhati-hati pula dengan cinta! kalaulah tidak, celakalah ia di tengah menempuh jalan itu. Jangan dituruti hawa nafsu, tapi cinta ditimbanglah dengan ilmu dan akal. Orang yang menuruti hawa nafsu saja pada cintanya, kadang pula cintanya itu melemahkan hati, menambah susah hidup, hanyalah kesenangan fana yang memperdaya, janganlah di tempuh jalan itu! tapi tempuhlah jalan Tuhan, bukan jalan setan.

Kelihatan seorang perempuan cantik, pandang bertemu, hati berguncang, dada berdebar. Untuk kawin dengan perempuan itu hati tidak mau, sebab takut menanggung resiko, atau tidak ada uang guna menempuhnya.

Lalu, di tempuh jalan sesat, berzina.

Apabila satu kali jalan sesat telah bertempuh, jangan harap akan menempuh kembali jalan yang lurus, sebelum menerima ganjaran yang sepadan, yakni sebelum sampai di ujungnya.

Warna kesucian pada muka pun hilanglah, dengan tidak insaf diri pun tergolong masuk bagian orang yang durjana. Kemanapun duduk tidak dipercayai orang. Bila kita bertamu ke rumah kawan, disuruhnya anak dan istrinya masuk ke dalam. Kesudahannya hati mendongkol, dunia bertambah dipersunting, kian lama kian karam, tidak diharapkan naik lagi, ditimpa penyakit budi, bahkan banyak pula ditimpa penyakit badan.

Asalnya cuma satu, yaitu perkara “pandang mata”!

Insaflah kita, bahwa di dunia ini hidup kita bukanlah buat bercinta dan kawin saja! Jangan dilupakan syariat Tuhan lalu dibiarkan nafsu itu dituruti. Kalaulah tuan-tuan hendak dapat banyak perempuan-perempuan cantik di tangan tuan, janganlah cari di dunia, tak dapat keinginan itu! Carilah di akherat! Di dunia ini kita akan mendirikan rumah tangga, mengatur anak-anak, mendidik, mengasuh, dan tolong menolong. Mudah mengurus perkara perkawinan, namun tidak semua orang pandai mengurus perkara rumah tangga.

Sebab itu, jagalah matamu hai laki-laki, jagalah matamu hai perempuan. Pagarlah dirimu masing-masing dengan sabar hai laki-laki, dan dengan malu, hai perempuan.

Janganlah kamu bersolek, berhias, dan berbedak untuk menarik mata laki-laki agar ia tergila-gila kepadamu. Tetapi hiasilah dirimu guna dilindungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *